Karena Mitos, Pejabat di Rembang Takut ke Ngaglik

Mitos yang masih dipercayai hingga saat ini adalah bagi pejabat maupun ASN yang datang ke Dusun Ngaglik akan kehilangan jabatan atau turun jabatan.
Karena Mitos, Pejabat di Rembang Takut ke Ngaglik
Sukarjan, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kedungasem Kecamatan Sumber./tagar.id

Nusantaratv.com - Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang yang memiliki hamparan lahan pertanian subur nan asri. Dusun yang memiliki penduduk sekitar 40 kepala keluarga (KK) ini sejak dulu terisolasi dari pelayanan pemerintah karena mitos yang beredar di dusun ini. Di Dusun Ngaglik berlaku mitos mengerikan buat pejabat maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Rembang.

Mitos yang masih dipercayai hingga saat ini adalah bagi pejabat maupun ASN yang datang ke Dusun Ngaglik akan kehilangan jabatan atau turun jabatan. Akibat mitos ini, dari dulu hingga sekarang belum ada  pejabat daerah yang mau datang berkunjung ke desa Ngaglik. 

penduduk dusun Ngaglik. (r2rembang.com)

Sukarjan, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kedungasem Kecamatan Sumber menjelaskan, mitos ASN Kabupaten Rembang yang berkunjung ke Dusun Ngaglik akan kehilangan jabatan sudah ada sejak lama, bahkan sebelum dirinya dilahirkan. Awalnya mitos tersebut hanya sebuah kejadian biasa, seorang pemerintah desa yang berkunjung ke dusunnya  lengser dari jabatan.

“Katanya kalau pejabat datang ke dusun saya nanti jabatannya lepas, atau copot, atau tertimpa kesialan yang lainnya. Itu kan tidak logis. Itu (mitos) sudah lama sejak orang tua saya, sejak mbah saya, dari buyut-buyut saya kalau cerita gitu,” jelas Sukarjan.

Baca Juga: Menelusuri Keberadaan Harta Karun di Rumah Kuno Belanda

“Yang terbaru sebelum saya berangkat ke sini (kantor kecamatan-Red) ada seorang ibu melahirkan dua bulan lalu, tak tanya apakah sudah ada bidan ke sini, jawabnya belum ada. Tiap kali saya lapor, selalu dijawab, salahe desamu ngono (salah sendiri desa kamu begitu). Pertanyaannya, apakah kami beda dengan yang lain,“ bebernya.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz yang mendengar keluhan tersebut memerintahkan Kepala Desa Kedungasem untuk mengawali masuk Dusun Ngaglik bersama bidan. Kalau bidan tidak mau, segera dilaporkan.

Pernah pula di Dusun Ngaglik terjadi wabah ayam mati. Pegawai pemerintah yang ingin melakukan pemeriksaan meminta agar bangkai ayam diangkut keluar dusun dulu.

“Kalau bangkai ayam mungkin masih bisa kita bawa. Lha misalnya ada jenazah manusia, apa ya harus kami gotong dulu keluar kampung. Ini kan nggak mungkin pak,“ imbuh Sukarjan.

Mitos unik di Dusun Ngaglik itu pernah menjadi sorotan media TV nasional, beberapa tahun silam. Nyatanya sampai sekarang mitos belum terkikis. Sukarjan mempertanyakan apakah warga di dusunnya akan mendapatkan perlakuan semacam itu terus menerus, padahal Pancasila mengamanatkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Namun ada yang sedikit melegakan saat ini, karena jika dulu tidak ada penghulu KUA berani datang ke Dusun Ngaglik untuk menikahkan warga, sejak 2 tahun terakhir, penghulu sudah mau masuk Dusun Ngaglik.

“Saya masih ingat setelah ada pergantian pejabat KUA, sekarang sudah ada akad nikah di Dusun Ngaglik. Sebelum itu, Ngaglik masih terkesan medeni (menakutkan),“ ucap Sukarjan.

Berharap Kedatangan Bupati Rembang

Sukarjan masih memiliki pekerjaan rumah sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kedungasem untuk menghapus mitos mengerikan yang menyelimuti dusunnya. Berbagai upaya sudah berulang kali ia lakukan. Mulai dari ajakannya ke camat, hingga ke kepala daerah seperti Bupati dan Wakil Bupati Rembang.

Upaya yang coba dilakukan Sukarjan adalah mengajak camat bahkan Bupati Rembang untuk berani datang ke Dusun Ngaglik. Meski sampai saat ini, hal tersebut masih belum terealisasi. Padahal, dengan datangnya bupati ataupun camat ke Dusun Ngaglik bisa menghapus mitos mengerikan tersebut.

“Dulu wakil bupati pernah bilang akan berkunjung ke sini, waktu ada audiensi di kecamatan. Tapi ya saya tunggu sampai ganti tahunnya nyatanya belum ke sini. Entah itu dihantui mitos tersebut atau entah sedang banyak acara, saya tidak bisa memastikan,” ungkapnya.

Baca Juga: Pohon Menangis Hebohkan Warga Jember

Pada akhir tahun lalu saat audiensi dengan Bupati Rembang H Abdul Hafidz, Sukarjan berharap bupati bersedia mengunjungi Dusun Ngaglik. Mendengar jawaban yang diberikan Bupati, Sukarjan menaruh harapan besar agar kali ini pelayanan bisa sampai ke dusunnya setelah ada kunjungan Bupati.

“Sekarang logikannya begini, misal bosnya saja tidak berani masuk, wajar kalau bawahannya juga tidak berani. Harapan saya janji-janji dari pejabat yang di Kabupaten bisa direalisasikan,”

“Ibaratnya kalau bupatinya aja datang ke sini mengajak camatnya, mosok camatnya tidak mau ke sini. Kalau camat ke sini ngajak bawahannya, mosok bawahannya tidak mau. Kalau semuanya sudah bersedia datang ke sini, mitos-mitos itu pasti akan terkikis,” ujarnya.

Guna meyakinkan masyarakat sekaligus menjadi contoh bagi para pejabat, Bupati Rembang H. Abdul Hafidz berjanji akan membuat acara di Dusun Ngaglik Desa Kedungasem, Kec. Sumber. 

Sumber: r2rembang.com

 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0